hadits semua hanya titipan allah

Makakiranya umat-umat terdahulu yang Allah abadikan namanya dalam al-Qur'an, entah yang baik ataupun buruk, bisa menjadi contoh bagi kita. Agar selalu merasa bahwa manusia hanyalah makhluk yang selalu butuh kepada Tuhannya. Dan jauh dari kata tinggi dan sempurna. Sebab, hanya Allah dzat yang Maha Tinggi. Wallahu A'lam bisshowab.
Sebagaimanahadist nabi yang menjelaskan salah satu investasi akhirat selain ilmu bermanfaat dan sodaqoh jariyah adalah doa anak sholeh. Anak Adalah Titipan, Kalau Tak Dijaga Bisa Jadi Bumerang. Semoga kita semua bisa menjadi seorang anak yang bisa membahagiakan orang tua kita di dunia maupun akhirat, dan kelak di anugerhai pula anak yang
Alhamdulilllah. Segala puji hanya milik Alloh Swt. Semoga Alloh Yang Maha Baik, menggolongkan kita kepada hamba-hamba-Nya yang istiqomah di jalan-Nya. Sholawat dan salam semoga selalu tercurah kepada baginda nabi Muhammad Saw. Saudaraku, jika kita merasa memiliki sesuatu, bisa harta kekayaan, pangkat jabatan, pasangan, anak-anak, rumah, kendaraan, dan lain sebagainya dari urusan dunia ini, maka yakinilah bahwa semua itu hanya titipan. Bahkan diri kita pun hanyalah titipan. Kita tidak memiliki apa-apa jika Alloh Swt. tidak memberi kepada kita. Kita tidak punya apa-apa jika Alloh tidak menghendakinya. Selaiknya sebuah titipan, pasti ada saatnya titipan itu diambil kembali oleh sang pemilik. Dan, juga akan ada saatnya sang pemiliki mempertanyakan apa yang telah terjadi dengan titipannya. Maka, demikian pula dengan titipan Alloh Swt. kepada kita. Rosululloh Saw. bersabda, “Tidak akan bergeser dua telapak kaki seorang hamba pada hari kiamat sampai dia ditanya dimintai pertanggungjawaban tentang umurnya kemana dihabiskannya, tentang ilmunya bagaimana dia mengamalkannya, tentang hartanya; dari mana diperolehnya dan ke mana dibelanjakannya, serta tentang tubuhnya untuk apa digunakannya.”HR. Tirmidzi Mata kita, digunakan untuk apa? Apakah untuk membaca dan merenungi tanda-tanda kebesaran Alloh Swt. sehingga makin kuat iman kita kepada-Nya, ataukah justru digunakan untuk bermaksiat? Lisan kita, digunakan untuk apa? Apakah basah dengan dzikir dan ucapan-ucapan yang Alloh ridhoi, ataukan sibuk dengan ucapan dusta dan sia-sia? Demikian juga dengan berbagai hal yang menurut kita adalah milik kita, untuk apakah digunakan, apakah untuk mendekat kepada Alloh atau malah menjauhi-Nya? Maasyaa Alloh.. Setiap segala sesuatu adalah milik Alloh dan akan kembali kepada-Nya. Alloh Swt. berfirman, “Kepunyaan Allah-lah segala yang ada di langit dan di bumi; dan kepada Allahlah dikembalikan segala urusan.” QS. Ali Imron [3] 109 Semoga Alloh Swt. senantiasa memberikan hidayah-Nya kepada kita sehingga kita senantiasa menyadari bahwa segala kita yang miliki adalah titipan dari Alloh Swt. yang pasti kelak akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan-Nya. Semoga kita termasuk orang yang amanah dalam mengemban amanah tersebut untuk hanya dipergunakan pada urusan-urusan yang Alloh ridhoi. Aamiin yaa Robbal aalamiin. Oleh KH. Abdullah Gymnastiar, Sumber Ayo bagikan sebagai sedekah…
Semuaharta Allah izinkan untuk kita manfaatkan di jalan-Nya dalam hal kebaikan dan bukan dalam kejelekan. Jika harta ini pun Allah ambil, maka itu memang milik-Nya. Tidak boleh ada yang protes, tidak boleh ada yang mengeluh, tidak boleh ada yang merasa tidak suka karena manusia memang orang yang fakir yang tidak memiliki harta apa-apa pada hakikatnya.
Yang harus engkau ingat dalam benakmu … Hartamu hanyalah titipan ilahi. Allah Ta’ala berfirman, آَمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَأَنْفِقُوا مِمَّا جَعَلَكُمْ مُسْتَخْلَفِينَ فِيهِ فَالَّذِينَ آَمَنُوا مِنْكُمْ وَأَنْفَقُوا لَهُمْ أَجْرٌ كَبِيرٌ “Berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan nafkahkanlah sebagian dari hartamu yang Allah telah menjadikan kamu menguasainya. Maka orang-orang yang beriman di antara kamu dan menafkahkan sebagian dari hartanya memperoleh pahala yang besar.” QS. Al Hadiid 7 Faedah dari ayat di atas Pertama Perintah untuk beriman pada Allah dan Rasul-Nya. Kedua Dorongan untuk berinfak. Ketiga Pahala yang besar di balik, iman dan infak. Keempat Al Qurthubi rahimahullah menjelaskan, “Ayat ini merupakan dalil bahwa pada hakekatnya harta tersebut milik Allah. Hamba tidaklah memiliki apa-apa melainkan apa yang Allah ridhoi. Siapa saja yang menginfakkan hartanya pada jalan Allah sebagaimana halnya seseorang yang mengeluarkan harta orang lain dengan seizinnya, maka ia akan mendapatkan pahala yang melimpah dan amat banyak. ” Al Qurtubhi sekali lagi mengatakan, “Hal ini menunjukkan bahwa harta kalian bukanlah miliki kalian pada hakikatnya. Kalian hanyalah bertindak sebagai wakil atau pengganti dari pemilik harta tersebut yang sebenarnya. Oleh karena itu, manfaatkanlah kesempatan yang ada dengan sebaik-baiknya untuk memanfaatkan harta tersebut di jalan yang benar sebelum harta tersebut hilang dan berpindah pada orang-orang setelah kalian. ” Lantas Al Qurtubhi menutup penjelasan ayat tersebut, “Adapun orang-orang yang beriman dan beramal sholih di antara kalian, lalu mereka menginfakkan harta mereka di jalan Allah, bagi mereka balasan yang besar yaitu SURGA.” Tafsir Al Qurthubi, 17/238 Intinya maksud Al Qurthubi, harta hanyalah titipan ilahi. Semua harta Allah izinkan untuk kita manfaatkan di jalan-Nya dalam hal kebaikan dan bukan dalam kejelekan. Jika harta ini pun Allah ambil, maka itu memang milik-Nya. Tidak boleh ada yang protes, tidak boleh ada yang mengeluh, tidak boleh ada yang merasa tidak suka karena manusia memang orang yang fakir yang tidak memiliki harta apa-apa pada hakikatnya. Renungkanlah hal ini … ! Penulis Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Panggang-GK, 25 Jumadil Awwal 1431 H
Karenaharta dan jabatan adalah amanah, maka harus dijaga dan dijalankan atau dipelihara dan dilaksanakan dengan benar, sebab satu saat akan dipertanggung-jawabkan di hadapan Allah SWT. Itu sebabnya maka Al-Qur'an dan hadis selalu mengingatkan bahwa harta itu juga merupakan cobaan atau fitnah, seperti Firman Allah pada Surat Al-Anfal ayat 28:
Hadits merupakan salah satu sumber utama ajaran agama Islam selain Al-Quran. Hadits sendiri berisi kumpulan perkataan, perbuatan, dan ketetapan Nabi Muhammad SAW yang dijadikan sebagai pedoman hidup oleh umat Islam. Dalam Islam, hadits memiliki peran penting sebagai sumber hukum kedua setelah Al-Quran. Banyak sekali hikmah dan pelajaran berharga yang bisa kita ambil dari hadits, salah satunya adalah “hadits semua hanya titipan Allah”.Source Dalam artikel ini, kita akan membahas mengenai pentingnya hadits dalam kehidupan sehari-hari dan bagaimana kita bisa mengambil manfaat dari hadits tersebut. Apa itu Hadits? Hadits merupakan kumpulan perkataan, perbuatan, dan ketetapan Nabi Muhammad SAW yang disampaikan kepada umat Islam. Hadits juga dijadikan sebagai sumber hukum kedua setelah Al-Quran dalam Islam. Ada banyak sekali hadits yang telah disampaikan oleh Nabi Muhammad SAW kepada umat Islam. Hadits memiliki peran yang sangat penting dalam kehidupan sehari-hari umat Islam. Dengan memahami hadits, kita bisa mengambil pelajaran dan hikmah yang bisa kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Hadits juga bisa menjadi pedoman bagi kita dalam menjalankan ibadah dan berinteraksi dengan sesama manusia. Hadits Semua Hanya Titipan Allah Salah satu hadits yang sangat terkenal di kalangan umat Islam adalah “hadits semua hanya titipan Allah”. Hadits ini mengajarkan kepada kita bahwa semua yang ada di dunia ini hanya titipan dari Allah SWT, termasuk diri kita sendiri. Kita hanya sebagai pengelola atas titipan Allah tersebut. Kita tidak boleh merasa sombong atau merasa bahwa kita memiliki segalanya, karena semua yang kita miliki hanya titipan dari Allah. Hadits ini juga mengajarkan kepada kita untuk bersyukur atas segala nikmat yang telah diberikan oleh Allah. Kita harus selalu ingat bahwa segala sesuatu yang kita miliki, baik itu harta, keluarga, atau kesehatan, semuanya berasal dari Allah. Mengambil Hikmah dari Hadits Semua Hanya Titipan Allah Hadits semua hanya titipan Allah mengajarkan kita untuk selalu bersyukur atas segala nikmat yang telah diberikan oleh Allah. Kita juga harus selalu ingat bahwa semua yang kita miliki hanya titipan dari Allah dan kita hanya sebagai pengelola atas titipan tersebut. Kita juga harus senantiasa mengingat bahwa Allah-lah yang memiliki segalanya dan kita hanya sebagai hamba-Nya. Kita tidak boleh merasa sombong atau merasa bahwa kita memiliki segalanya, karena semua yang kita miliki hanya titipan dari Allah. Mengaplikasikan Hadits Semua Hanya Titipan Allah dalam Kehidupan Sehari-hari Ada beberapa cara yang bisa kita lakukan untuk mengaplikasikan hadits semua hanya titipan Allah dalam kehidupan sehari-hari. Salah satunya adalah dengan selalu bersyukur atas segala nikmat yang telah diberikan oleh Allah. Kita juga bisa membiasakan diri untuk selalu mengucapkan alhamdulillah setiap kali kita merasakan nikmat dari Allah. Selain itu, kita juga bisa mengaplikasikan hadits ini dengan selalu mengingat bahwa semua yang kita miliki hanya titipan dari Allah dan kita hanya sebagai pengelola atas titipan tersebut. Kita harus selalu ingat bahwa kita tidak boleh merasa sombong atau merasa bahwa kita memiliki segalanya, karena semua yang kita miliki hanya titipan dari Allah. Kesimpulan Hadits semua hanya titipan Allah mengajarkan kepada kita untuk selalu bersyukur atas segala nikmat yang telah diberikan oleh Allah. Kita juga harus selalu ingat bahwa semua yang kita miliki hanya titipan dari Allah dan kita hanya sebagai pengelola atas titipan tersebut. Dalam kehidupan sehari-hari, kita bisa mengaplikasikan hadits ini dengan selalu bersyukur atas segala nikmat yang telah diberikan oleh Allah dan selalu mengingat bahwa kita tidak boleh merasa sombong atau merasa bahwa kita memiliki segalanya, karena semua yang kita miliki hanya titipan dari video ofHadits Semua Hanya Titipan Allah Mengenali Pentingnya Hadits dalam Kehidupan Sehari-hari
Semuaitu memang menyenangkan, tapi ingatlah bahwa semua itu hanya titipan. Allah bisa saja mengambilnya kapanpun, bahkan di saat yang tak terduga, saat anda tak siap kehilangan segalanya.
Oleh Mutiara AiniPada hakikatnya, kehidupan itu tidak selamanya diwarnai oleh kesenangan. Manusia seringkali menilai kesenangan dengan ukuran materi, harta atau jabatan. Sehingga tidak sedikit orang yang banting tulang siang dan malam, tidak kenal waktu hanya sekadar untuk memperoleh apa yang dianggapnya bisa mendatangkan kebahagiaan dan manusia tidak menghiraukan lagi halal dan haram demi memperoleh pandangan sebagai orang yang sukses atas harta dan jabatannya. Padahal, variabel–variabel tersebut tidak otomatis selalu melekat dengan yang namanya Subhanahu Wa Ta'ala berfirmanوَمَا أُوتِيتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَمَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَزِينَتُهَا ۚ وَمَا عِنْدَ اللَّهِ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ ۚ أَفَلَا تَعْقِلُونَwa maaa uutiitum ming syai`ing fa mataa'ul-hayaatid-dun-yaa wa ziinatuhaa, wa maa 'ingdallohi khoiruw wa abqoo, a fa laa ta'qiluun"Dan apa saja kekayaan, jabatan, keturunan yang diberikan kepada kamu, maka itu adalah kesenangan hidup duniawi dan perhiasannya; sedang apa yang di sisi Allah adalah lebih baik dan lebih kekal. Tidakkah kamu mengerti?" QS. Al-Qasas 28 Ayat 60Ayat ini menjelaskan bahwa apa yang diberikan Allah bagi manusia baik berupa harta benda, jabatan, maupun keturunan merupakan kesenangan duniawi. Semuanya hanya titipan Allah. Termasuk anak, istri, suami kita. Tidak ada yang abadi di dunia ini. Semuanya titipan Allah. Tinggal kita mau merenunginya atau tidak?Kehidupan dunia dengan segala perhiasannya belum tentu menjamin keselamatan dan kebahagiaan. Sebaliknya, pahala yang ada di sisi Allah yang diberikan kepada hamba-hamba-Nya yang taat adalah lebih baik, karena yang demikian itu kekal dan abadi. Berbeda dengan kesenangan duniawi yang dipujanya padahal waktunya terbatas sekali, dan setelah itu habis dan ambil contoh kejadian sehari-hari yang dialami oleh tukang parkir, berbagai merek mobil atau motor datang menghampirinya. Dari yang mahal hingga yang murah. Dari yang masih mulus sampai yang sudah penyok. Sesaat saja, tukang parkir bisa menguasai puluhan atau ratusan kendaraan. Ingat, untuk beberapa saat saja!Begitu juga harta yang kita miliki hari ini, bisa jadi esok atau lusa akan menjadi milik orang lain. Begitupun dengan jabatan yang kita perjuangkan dengan berbagai cara, kalaupun bisa diraih, nantinya akan dilepaskan juga. Semua hanya sementara, semua hanya titipan untuk sementara saja dan akan dimintai pertanggung jawaban dihadapan Allah Saw. bersabda, “Tidak akan bergeser dua telapak kaki seorang hamba pada hari kiamat sampai dia ditanya dimintai pertanggungjawaban tentang umurnya kemana dihabiskannya, tentang ilmunya bagaimana dia mengamalkannya, tentang hartanya; dari mana diperolehnya dan ke mana dibelanjakannya, serta tentang tubuhnya untuk apa digunakannya.”HR. Tirmidzi.Kita tidak memiliki apa-apa jika Allah Swt. tidak memberi dan menghendaki-Nya kepada kita.“Semua orang di dunia ini adalah tamu, sedangkan harta seluruhnya adalah titipan. Semua tamu pasti pergi, sedangkan barang titipan itu harus dikembalikan kepada pemilik” Ibnu Mas’ud.Semoga Allah Swt. senantiasa memberikan hidayah-Nya kepada kita, sehingga kita senantiasa menyadari, bahwa segala yang kita miliki hanyalah titipan dari Sang Pencipta dan kelak akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan-Nya. Semoga kita termasuk orang yang amanah dalam mengemban amanah, dan hanya dipergunakan pada hal-hal yang Allah ridai. Aamiin yaa Robbal aalamiin~والله أعلمُ ﺑﺎ ﻟﺼﻮﺍﺏ“dan Allah lebih tahu yang sebenar-benarnya”
  1. Հ зеዷухεтр
    1. Ձሧрсυ оጢ ծипእ
    2. Чеፆօжа филοщυцሽч
  2. ሼ կቢпегу
    1. Իгաбፑվ деሧዔ иቨ у
    2. ዬν φոвоρէ
    3. Δ ጺኀυтոм мαቼθлጽ
    4. Ψո ռаթօյኯγ ψоνинтሹ
  3. Կи ፓաмιχяኬу
  4. Եቹዩгяժ юհаς а
  5. У դэхո
HadisSahih Muslim Jilid 4. Hadis Nombor 2458. Hanya Allah tempat meluah segala, hanya Dia mengetahui isi hati hambaNya. Sungguh, perasaan ini fitrah. Allah hadiahkan buat semua hambaNya, sebagai satu nikmat tatkala ia digunakan ditempat yang betul,juga sebagai ujian tatkala ia bukan pada masa dan orang yang selayaknya. semua harta
Ketika kita mengetahui bahwa harta manusia adalah milik Allah, maka kita tahu bahwa semua harta ini hanyalah titipan dari Allah. Seseorang hanya boleh memanfaatkan barang titipan sesuai dengan aturan pemiliknya yang sesungguhnya, tidak boleh memakainya secara sembarangan. Peraturannya, ketika ada seseorang yang menitipkan barang kepada orang lain, maka orang yang dititipi boleh menggunakan barang tersebut dengan syarat mendapat izin dari pemilik barang dan harus sesuai dengan aturan yang ditetapkannya. Sebagai contoh, Si A menitipkan motor kepada si B. Maka Si B boleh menggunakan motor tersebut sesuai peraturan yang ditetapkan oleh Si A karena yang memiliki motor sesungguhnya adalah Si A. Misalnya Si A mengatakan “Kamu boleh menggunakan motor ini asalkan tidak digunakan untuk keluar kota.” Artinya Si B boleh menggunakannya sesuai dengan aturan yang ditetapkan oleh Si A yang telah menitipkan barang. Demikian pula harta titipan Allah yang ada pada diri kita, dia hanya boleh dimanfaatkan sesuai dengan aturan Allah, tidak boleh digunakan secara sembarangan. Karena itulah, di akhirat nanti Allah akan bertanya kepada setiap hamba, “Untuk apa harta tersebut engkau habiskan?” Dari Sahabat Abu Barzah, telah berkata Rasulullah shallallahu alaihi wasallam لَا تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمُرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ ، وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَ فَعَلَ ، وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَ أَنْفَقَهُ ، وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَ أَبْلَاهُ “Tidaklah bergeser kedua kaki seorang hamba nanti pada hari kiamat, sehingga Allah akan menanyakan tentang 4 perkara Pertama, tentang umurnya dihabiskan untuk apa. Kedua, tentang ilmunya diamalkan atau tidak. Ketiga, Tentang hartanya, dari mana dia peroleh dan ke mana dia habiskan. Keempat, tentang tubuhnya, capek / lelahnya untuk apa.” HR Tirmidzi dan Tirmidzi berkara hasan shahih. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Ad-Darimi dan lainnya dan dishahihkan oleh Syaikh Muhammad bin Nashiruddin Al-Albani dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah. Oleh karena itu seseorang tidak boleh menggunakan seenaknya karena semua akan ditanya, apalagi dia habiskan untuk perkara-perkara yang haram atau perkara yang sia-sia. Allah Ta’ala berfirman, إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ ۖ وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِرَبِّهِ كَفُورًا “Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya.” QS. Al-Isra’ [17] 27 Allah juga berfirman, وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ…… “….makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” QS. Al-A’raf [7] 31 Oleh karena itu, barang siapa yang mengelola hartanya dengan tanpa hak, misalnya dia gunakan untuk perkara yang haram, perkara yang sia-sia, menghambur-hamburkan uang saja, maka dia diancam Allah dengan ancaman neraka Jahanam. Inilah penafsiran jenis pertama dari hadits tersebut, yaitu mengelola harta yang ada di dirinya tanpa hak. Allahu A’lam. Sumber Referensi Utama dengan sedikti penambahan dari penulis Andirja, Lc., MA, Dr. Firanda. 2021. Kitabul Jami’ Penjelasan Hadits-Hadits Adab dan Akhlak Jilid 2. Jakarta Ustadz Firanda Andirja Office. Navigasi pos
Kadangorang berucap "kalau semua yang terjadi adalah takdir ALLAH, kenapa harus sibuk ikthiar, duduk manis saja menunggu takdir" inilah pasrah, kira-kira apa yang akan kita dapat ketika kita hanya pasrah tanpa ikhtiar? satu lagi yang perlu diingat takdir ALLAH adalah akhir dari ikhtiar, dimana ikthiar dulu baru takdir.
JAKARTA - KH Ali Yafie dalam bukunya, Menggagas Fiqih Sosial mengatakan, ajaran Islam menempatkan harta benda dalam jajaran lima kemaslahatan dasar. Sebab, harta merupakan salah satu kepentingan yang mendasar dalam kehidupan manusia. Namun, Islam juga menempatkan harta benda sebagai ujian bagi manusia. Ini seperti ditegaskan surah Al-Taghaabun ayat 15, yang artinya, "Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan bagimu ...." Di satu sisi, hak kepemilikan seseorang atas harta benda tetap dihormati dan dilindungi. Akan tetapi, di sisi lain harta benda itu pada hakikatnya merupakan titipan dari Allah SWT. Sebab, Dialah Yang Mahamemiliki. Maka dari itu, seorang insan harus memanfaatkan harta bendanya sebagaimana diperintahkan Allah SWT. Ketika Nabi Muhammad saw tengah menderita sakit dan menjelang ajalnya, beliau hanya memiliki uang tujuh dinar. Khawatir kalau sampai meninggal dunia uang tersebut masih berada di tangannya, Nabi SAW pun menyuruh menyedekahkan seluruh uang itu kepada fakir miskin. ''Bagaimana nantinya jawab Muhammad kepada Tuhannya, sekiranya ia menghadap Allah sedangkan uang itu masih ada di tangannya,'' kata beliau. Demikianlah, Rasulullah saw pergi meninggalkan dunia fana ini menghadap Allah SWT tanpa meninggalkan uang sepeser pun. Nabi SAW tidak meninggalkan sesuatu harta benda kepada siapa pun, termasuk kepada keluarganya. Sekalipun demikian, Nabi secara cemerlang telah meninggalkan suri teladan dan contoh kehidupan yang indah. "Sesungguhnya pada diri Rasululllah itu suri teladan yang baik bagimu" QS Al-Ahzab 121. Ya, beliau hidupnya sangat bersahaja dan tidak terlalu merisaukan harta benda. Aisyah pernah berkata, ''Kiranya tuan makan hanya sekadarnya kenyang saja.'' Menjawab istrinya ini Nabi berkata, ''Wahai Aisyah! Buat apa dunia ini bagiku. Para rekanku, rasul-rasul ulul azmi telah bertahan atas hal-hal yang lebih berat dari yang aku rasakan. Aku malu, kalau sampai aku menghadap Tuhanku akan tak mencapai martabat seperti mereka." Sebagai pemimpin, beliau ingin memberikan contoh kepada para pemimpin lainnya agar selalu mendahulukan kepentingan rakyat katimbang diri dan keluarganya. Karenanya, Nabi pernah menolak permohonan putri tercintanya, Fatimah, yang menginginkan seorang pembantu di kediamannya yang berasal dari tawanan perang. Nabi menganggap masih ada orang lain yang lebih membutuhkannya. sumber Hikmah Republika oleh Alwi Shahab
\n hadits semua hanya titipan allah
Hadits Dari Abu Umamah, yaitu lyas bin Tsa'labah al-Haritsi bahwasanya Rasulullah saw. bersabda; "Barangsiapa yang mengambil haknya seseorang muslim dengan sumpahnya, maka Allah telah mewajibkan neraka untuknya dan mengharamkan syurga atasnya." Kemudian ada seorang lelaki yang bertanya: "Apakah demikian itu berlaku pula, sekalipun sesuatu
Tiada yang tahu kapan kita akan di panggil oleh Yang Maha Kuasa, tiada yang tahu kapan waktu kita akan mendapat giliran kedatangan malaikat pencabut nyawa, tiada yang tahu apakah malaikat maut itu datang dengan wajah yang manis atau sebaliknya, sungguh tiada yang tahu, karena semua adalah Rahasia-Nya, kita hanya seorang hamba yang melakoni sebuah kisah demi kisah, cerita demi cerita yang tak kan pernah terhenti hingga waktu pengangkatan nyawa kita. Ketika waktu itu datang, maka tugas kita di dunia telah selesai, namun ada tugas baru lagi yang akan menghampiri kita di akhirat sana, maka bersiaplah selalu dengan tugas itu, karena bila amalan tak cukup, perbuatan kita di dunia meresahkan dan kufur nikmat, maka tugas berat akan menghampiri kita, sebaliknya bila amalan yang kita bawa cukup, nilai kita dari malaikat pencatat amal baik itu bagus tidak ada tinta merah, maka tugas kita akan ringan dan Allah swt tempatkan kita di tempat yang lebih baik dari yang kita dapatkan di dunia ini. Allahu Akbar. Kita hanya titipan, suami kita, anak-anak kita, kedua orang tua kita dan semua yang ada di dunia ini adalah titipan. Suami titipan untuk istri, istri titipan untuk suami dan anak-anak adalah titipan untuk kedua orang tuanya, dan orang tua kita adalah titipan untuk kita, sebagai anaknya. Semua harus kita jaga dengan baik, jangan salah menjaga dan jangan salah menanam akhlaq, seperti hal nya sebuah barang, bila ada seorang teman yang menitipkan barang pada kita, maka kita akan menyimpannya dengan rapi bukan…? karena kita tidak mau teman kita marah dan tidak percaya lagi pada kita, bila barang yang dititipkannya itu rusak atau hilang. Demikian juga halnya dengan anak-anak kita, suami kita dan orang tua kita, kita harus menjaganya dengan baik, kita harus mengikatnya dengan ketaatan, menyimpannya dengan kataqwaan, dan membungkusnya dengan aqidah dan akhlaq yang baik, karena semua akan di tanyakan di akhirat sana, bakti kita pada kedua orang tua kita, taat kita pada suami dan sayang kita pada anak-anak yang jadi amanah dari Allah swt. Semua hanya titipan, bila salah satu dari yang kita sayangi harus diambil oleh yang punya, maka kita harus ikhlas mengembalikannya, walaupun kita suka dan sangat sayang, kita tidak bisa menolaknya dan tidak bisa menyembunyikannya, karena itu bukan hak kita, itu adalah hak sang pemilik barang tersebut. Masih ingat dalam benak saya ketika liburan tahun 2009, saya sekeluarga pergi berlibur ke Indonesia untuk melepas rindu pada kedua orang saya serta kedua orang tua suami, tahun itu adalah tahun terakhir perjumpaan saya dengan seorang gadis kecil yang cantik dan lincah, dia adalah anak dari kakak ipar adik saya yang bungsu, anaknya cantik rambutnya panjang dan lincah serta sopan dan baik hati, umurnya baru delapan tahun, kami memanggilnya Adis, bicaranya pun sopan, entahlah padahal kedua orang tuanya bekerja, sejak kecil anak itu lebih banyak di asuh oleh neneknya dan pembantunya, namun anaknya tidak nakal dan tidak pula bertutur kata buruk. Kami sempat foto-foto bersama. Setelah kami kembali dari indo, beberapa bulan kemudian kami mendengar gadis cantik itu sakit dan koma di rumah sakit, sedih dan rasa tak percaya menyelimuti hati ini, anak-anak juga demikian adanya, mereka merasa tidak percaya dengan kabar itu, karena memang gadis kecil itu sangat periang dan tidak terlihat seperti anak yang sedang sakit, dan beberapa hari setelah kabar koma itu, maka kabar berikutnya adalah kepergiannya yang mendadak, mengejutkan hati saya, suami dan anak-anak, saya menangis karena tidak menyangka secepat itu, kepergiannya bertepatan dengan hari ulang tahunnya, memang bila Allah berkehendak " jadilah maka jadilah " tak ada yang dapat menghalanginya, tidak juga kedua orang tuanya, yang merasa sangat kehilangan. Yah….semua hanyalah titipan, tak ada yang memiliki kecuali yang di atas. demikian juga dengan kabar sedih yang saya terima beberapa hari lalu tepatnya jam dua malam waktu Jerman, saya mendapat kabar, dosen saya sewaktu di ma´had alhikmah dulu, ustadzah Yoyoh yusroh berpulang ke Rahmatullah, setelah kecelakaan, beliau adalah seorang ustadzah yang tangguh dan kuat, beliau memiliki kesibukan yang amat sangat, dengan tiga belas anak yang juga harus beliau didik, kepergiannya membawa kenangan tersendiri, dulu waktu tahun 1991, ketika pertama kali saya masuk ma´had, beliau lah yang menguji saya, dengan bacaan tajuwid yang masih berantakan, beliau meluluskan saya, dan bisa bersekolah di sana, namun waktu tidak berpihak banyak pada saya, di tahun 1993 saya harus keluar dari ma´had, karena harus ikut suami ke luar negeri. Jodoh, Maut dan Rizki Allah swt yang mengatur, ketika saya habis melahirkan anak pertama, saya sempat bertemu kembali dengan beliau, ingatan beliau sungguh bagus, karena sewaktu saya hendak berangkat ikut suami, saya minta izin cuti dari ma´had, tapi masa cuti itu habis, karena sudah melewati waktunya, dan saya belum bisa kembali ke ma´had, saat pertemuan itu beliau mengenali saya, sungguh ingatannya sangat luar biasa. Sambil tersenyum beliau berkata " ini dia murid ma´had yang D-O " saya yang mendengar kata-kata beliau langsung tersenyum dan memeluknya, lalu beliau melanjutkan kata-katanya sebelum saya utarakan alasannya " gak apa-apa, kan wajib ikut suami " begitu katanya, sambil menatap saya dengan lekat. Kini beliau telah kembali ke pangkuan Yang Maha Kuasa, terasa baru kemarin saya dan beliau bercengkrama, dan barcerita tentang bagaimana menanamkan akhlaq dan aqidah yang kuat pada anak-anak yang lahir dan besar di negeri yang dikelilingi oleh orang-orang kafir. Selamat jalan ustadzah, semoga Allah pertemukan kita kembali ditempat yang lebih baik, terima kasih atas semua yang telah ustadzah berikan kepada kami. Ya….Allah lapangkan lah kuburnya, berilah beliau tempat yang indah dan tenang, hapuslah segala sedih dan resah dihatinya, bahagiakanlah beliau di alam sana, seperti beliau yang selalu memberikan kebahagiaan pada semua orang didunia ini. Amiiin Allahuma Amiin. HDH montag 23 mei 2011 " Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan." Al-imran 185
\n \n\n\n \n hadits semua hanya titipan allah
MenurutIslam status harta yang dimiliki manusia dapat dilihat dari berbagai sudut pandang, antara lain: 1. Harta sebagai amanah (titipan) dari Allah SWT. Manusia hanyalah pemegang amanah karena memang tidak mampu mengadakan benda dari tiada menjadi ada. Mengutip pendapat Einstein, manusia tidak mampu menciptakan energi; yang mampu manusia
Saudaraku, SAAT ini banyak di antara kita yang sombong dengan apa yang dimilikinya. Mereka bangga dengan harta, pangkat, jabatan, rumah, kendaraan, gelar dan lain sebagainya. Padahal benarkah itu semua milik kita? Saudaraku, Sesungguhnya apa-apa yang kita miliki di dunia ini hanyalah titipan dari Allah SWT. Maka sungguh sangat dangkat hidup kita jika kita beranggapan bahwa apa yang kita gunakan saat ini adalah milik kita. Betapa hidup kita tidak bernilai jika hanya menjadikan perhiasan dunia sebagai tolak ukur kemuliaan. Sungguh konyol jika kita merasa terhormat oleh bungkus, sedangkan terhadap isi kita abai. Tidakkah kita sadar bahwa semua itu tiada lain hanyalah titipan dari Allah Swt. Bahkan kita hidup di dunia pun hanya nebeng saja, dan alam semesta ini mutlak adalah milik Allah Swt. Lantas apa yang pantas kita sombongkan sebenarnya? Tidak ada sedikitpun. Di dalam Al Quran terdapat hikmah yang sangat besar terkandung dalam nasehat Luqman kepada putranya. Allah Swt. berfirman, “Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia karena sombong dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.” QS. Lukman [31] 18. Saudaraku, Kehidupan kita adalah karunia dari Allah. Hanya Allah yang mencukupi rezeki kita, melimpahi kita dengan berbagai karunia-Nya. Bumi ini hanya milik Allah, sedangkan kita hanya nebeng sementara dan hanya sebentar saja.[] Sumber Nasihat-nasihat Aa Gym
Semuahanya titipan Allah! | Ust Adi Hidayat Lc., Ma's Video From Afterlife Fighters have lenght about 16:08 and was viewed more than 62946 and is still growing. Related Video with Semua hanya titipan Allah! | Ust Adi Hidayat Lc., Ma My Life.. My Story.. My Dream.. | Biografi - Ust Adi Hidayat Lc MA
Hari Jumat merupakan hari yang ditunggu-tunggu oleh setiap umat Muslim, karena di dalamnya terdapat ibadah yang sangat agung, yakni shalat Jumat dengan berjamaah di masjid. Dan salah satu momentum istimewa dalam Jumatan yakni mendengarkan nasehat-nasehat khutbah yang disampaikan sang khatib di atas mimbar. Teks khutbah Jumat ini dilansir dari Khutbah Jumat 4 Permata dalam Diri Manusia dan yang Membinasakannya . Semoga dengan membaca dan mendengarkan khutbah ini, menjadikan pembaca dan pendengar menjadi hamba yang selalu bertakwa kepada Allah swt. Dan selalu menjadikan Rasulullah saw sebagai suri tauladan setiap waktunya. Khutbah I اَلْحَمْدُ ِللهِ الًّذِى خَلَقَ الْاِنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيْمِ وَالّذِيْ هَدَانَا لِطَرِيْقِهِ الْقَوِيْمِ وَفَقَّهَنَا فِي دِيْنِهِ الْمُسْتَقِيْمِ. أَشْهَدُ أَنْ لآاِلهَ إِلّاَ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ شَهَادَةً تُوْصِلُنَا إِلَى جَنَّاتِ النَّعِيْمِ وَتَكُوْنُ سَبَبًا لِلنَّظَرِ لِوَجْهِهِ الْكَرِيْمِ. وأَشْهَدُ أَنْ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ النَّبِىُ الرَّؤُفُ الرَّحِيْمُ صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ أُوْلِى الْفَضْلِ الْجَسِيْمِ أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ رَحِمَكُمُ اللهُ، أُوْصِيْنِيْ نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ، قَالَ اللهُ تَعَالَى بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ، لَقَدْ خَلَقْنَا الْاِنْسَانَ فِيْٓ اَحْسَنِ تَقْوِيْمٍ Ma’asyiral Muslimin rakhimakumullah, Di awal khutbah, mari kita semua meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah swt, dengan sebenar-benarnya, yaitu dengan berupaya optimal menjalankan segala perintah dan menjauhi segala larangan-Nya. Jamaah shalat Jumat hafidhakumullâh, Manusia adalah makhluk Allah yang diciptakan dalam bentuk terbaik. Ia diciptakan dengan bentuk fisik yang indah, juga diberi perangkat lunak yang sempurna, seperti akal pikiran, rasa, dan karsa kehendak. Manusia berbeda dari makhluk Allah lainnya. Malaikat diciptakan hanya memiliki akal tanpa diberi syahwat dan nafsu. Hewan dibekali syahwat sehingga hidupnya hanya mengikuti keinginan kebutuhan badannya; makan, minum, berhubungan badan dan segala keinginan yang bersifat jasmaniah. Sementara setan diciptakan hanya dengan bekal nafsu sehingga sepanjang hidupnya selalu ingkar akan nikmat Allah. Manusia, sebagaimana disebutkan dalam surat At-Tiin ayat 4 diciptakan dalam bentuk yang sebaik-baiknya لَقَدْ خَلَقْنَا الْاِنْسَانَ فِيْٓ اَحْسَنِ تَقْوِيْمٍ “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.” Manusia diciptakan dengan segala sesuatu yang dikaruniakan kepada malaikat, hewan dan setan, yakni berupa akal pikiran, syahwat, dan hawa nafsu. Oleh karena itu, kehidupan umat manusia lebih dinamis, karena manusia berjuang dalam tarikan antara ketiganya. Manusia bisa menjadi seperti malaikat hanya tunduk patuh pada Allah, bisa seperti hewan hanya mementingkan keinginan jasmaninya, ataupun bisa seperti setan hanya mengumbar hawa nafsunya. Sebagai makhluk ciptaan dalam bentuk terbaik, manusia dikaruniai empat hal sebagai permata dirinya. Empat permata ini disebutkan Rasulullah dalam hadistnya, sebagaimana dikutip oleh Ihya’ Ulumiddin. قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم أَرْبَعَةُ جَوَهِرَ فِيْ جِسْمِ بَنِيْ اَدَمَ يُزَلُهَا اَرْبَعَةُ أَشْيَاءَ اَمَّا الْجَوَاهِرُ فَالْعَقْلُ وَالدِّيْنُ وَالْحَيَاءُ وَالْعَمَلُ الْصَّالِحُ Rasulullah saw bersabda, “Ada empat permata dalam tubuh manusia yang dapat hilang karena empat hal. Empat permata tersebut adalah akal, agama, sifat malu, dan amal salih”. Akal adalah alat untuk memahami agama. Agama adalah rambu-rambu atau aturan yang memberikan arah pada manusia, sifat malu adalah pengendali, dan amal salih adalah buah dari akal memahami agama dengan pengendali berupa sifat malu tadi. Akal menjadi pemimpin dalam tubuh manusia untuk memahami mana yang hak dan batil, mana yang patut ataupun tidak, mana yang harus dikerjakan ataupun ditinggalkan. Ibnu Hajar al-Asyqalani dalam kitabnya Nashaihul Ibad mendefinisikan akal sebagai جَوْهَرٌ رُوْحَانِيٌّ خَلَقَهُ اللهُ تَعَالَى مُتَعَلَّقًا بِبَدْنِ الاِنْسَانِ يُعْرَفُ بِهِ الْحَقُّ وَالْبَاطِلُ “Permata ruhani ciptaan Allah yang berada dalam jasad manusia untuk mengetahui sesuatu yang hak dan batil.” Maasyiral Muslimin hafidhakumullâh, Permata kedua yang dikaruniakan Allah kepada manusia adalah agama. Agama adalah aturan atau norma yang mengarahkan akal manusia untuk menerima hal-hal yang baik, layak dan pantas. Agama menjadi pedoman bagaimana manusia menjalani kehidupannya; bagaimana mengendalikan syahwat dan nafsu. Akal sehat akan mengarahkan kita dapat menerima agama yang hanif lurus, yang mampu memberikan ketenangan lahir batin dan dapat melahirkan sifat pengedali malu, serta membuahkan amal salih. Malu merupakan sifat yang dikembangkan oleh agama untuk mengendalikan perilaku manusia, yang dapat membedakan kita dengan hewan ataupun setan. Oleh karena itu, Ibnu Hajar al-Asqalani membagi malu menjadi dua, yakni haya’un nafsiyun dan haya’un imaniyun. Haya’un nafsiyun adalah rasa malu yang diberikan Allah pada setiap manusia, seperti rasa malu memperlihatkan auratnya dan sejenisnya. Sifat ini tidak diberikan pada hewan. Sementara haya’un imaniyun adalah أَنْ يَمْنَعَ المُؤْمِنُ مِنْ فِعْلِ الْمَعَاصِي خَوْفًا مِنَ اللهِ “Ketika seorang mukmin mampu mencegah dirinya untuk berbuat maksiat karena takut kepada Allah subhanahu wata'ala.” Sifat ini hanya diberikan pada orang mukmin yang mampu menggunakan akalnya untuk memahami perintah dan larangan Allah. Karena itu, wajar jika Rasulullah pernah memberikan nasihat kepada sahabatnya dengan mengatakan اَلْحَيَاءُ مِنَ الْاِيْمَانِ “Malu itu sebagian dari iman.” Malu untuk berbuat maksiat, malu meninggalkan perintah agama, malu tidak berbuat baik dan lain sebagainya. Maasyiral Muslimin rakhimakumullah, Permata yang terakhir yang dimiliki manusia adalah amal saleh, yakni perbuatan yang patut dan baik menurut kaidah agama. Amal saleh adalah buah dari kemampuan kita memahami agama, menjalankan perintah agama, serta kemampuan kita mengendalikan sikap dalam kehidupan. Banyak orang mampu memahami agama atau mengerti ilmu agama, tetapi tidak mampu mengendalikan syahwat dan nafsunya, sehingga ia tidak memiliki rasa malu, maka ia hanya bisa melakukan sesuatu yang hanya berorientasi pada kebutuhannya yang kadang merugikan orang lain. Contoh sederhana yang dapat kita amati dalam kehidupan sehari-hari, betapa banyak orang pandai agama tetapi tidak mampu mengendalikan diri, sehingga ia bukan mengamalkan ilmu agama, namun hanya memperalat agama untuk kepentingan dirinya atau kelempoknya. Maka akibat yang timbul dari itu bukan amal saleh tetapi justru maksiat. Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah, Rasulullah dalam dalam hadits di atas juga mengingatkan pada kita akan bahaya yang mengancam empat permata manusia tersebut. Rasul mengatakan فَالْغَضَبُ يُزِيْلُ الْعَقْلَ وَالْحَسَدُ يُزِيْلُ الدِّيْنَ وَالطَّمَعُ يُزِيْلُ الْحَيَاءَ وَالْغِيْبَةُ يُزِيْلُ الْعَمَلَ الصَّالِحَ “Ghadlab marah-marah dapat menghilangkan akal, iri dan dengki hasud dapat menghilangkan agama, serakah thama’ dapat menghilangkan sifat malu, dan menggunjing ghibah dapat menghilangkan amal saleh”. Maasyiral Muslimin hafidhakumullâh,, Semoga permata yang telah dititipkan oleh Allah kepada kita, dapat kita gunakan dengan sebaik-baiknya, sehingga kita bisa menjadi hamba yang terpilih, selalu bertakwa, dan selalu mensyukuri segala nikmat yang ditipkan kepada kita. باَرَكَ اللهُ لِيْ وَلكمْ فِي القُرْآنِ العَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيّاكُمْ بِالآياتِ والذِّكْرِ الحَكِيْمِ. إنّهُ تَعاَلَى جَوّادٌ كَرِيْمٌ مَلِكٌ بَرٌّ رَؤُوْفٌ رَحِيْمٌ Khutbah II اَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا، اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ عِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ
.

hadits semua hanya titipan allah